Siapa disebalik Revolusi Mesir

Revolusi Mesir - Terjawab sudah siapa yang berada di balik revolusi yang bertujuan menggulingkan Presiden Mesir Hosni Mubarak. Pihak itu tak lain dan tak bukan adalah Amerika Serikat (AS). Skenario itu telah disusun Washington dengan bertema “perubahan rezim” selama tiga tahun terakhir. Skenario itu sangat matang hingga meledak setelah kesuksesan Revolusi Melati yang menggulingkan Presiden Tunisia Zine El Abidine Ben Ali. 

Harian Daily Telegraph terbitan Inggris menyebutkan, AS diam-diam mendukung para pemimpin gerakan revolusi Mesir. Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di Kairo pernah membantu seorang anak muda anti-pemerintah untuk menghadiri konferensi para aktivis AS.

Nama pemuda itu dirahasiakan agar tidak diketahui polisi Mesir.Kemudian,saat datang ke Kairo pada Desember 2008,aktivis itu menuturkan bahwa para diplomat AS menggaet kelompok oposisi untuk merencanakan skenario menggulingkan Presiden Mubarak dan membentuk pemerintahan demokratik pada 2011. Aktivis tersebut kini telah ditangkap dalam kaitannya dengan demonstrasi yang merebak akhirakhir ini. 

Identitasnya tetap dilindungi Daily Telegraph. Sementara, data kabel rahasia diplomatik AS yang dirilis situs peretas WikiLeaks menunjukkan, pejabat Washington menekan pemerintah Mesir agar membebaskan para aktivis antipemerintah yang ditahan. 

Dalam data diplomatik disebutkan, pada 30 Desember 2008 Duta Besar AS untuk Mesir Margaret Scobey melaporkan bahwa kelompok oposisi sedang menyusun agenda rahasia “perubahan rezim” yang akan dilaksanakan sebelum pemilu, dan dijadwalkan pada September 2011. 

Memo yang dikirim Scobey dikirim ke Kementerian Luar Negeri AS di Washington itu bertanda “rahasia” dan berjudul “(Gerakan) 6 April, kunjungan aktivis ke AS dan perubahan rezim di Mesir”. 
Data kawat diplomatik juga menyebut bahwa para aktivis mengklaim mendapatkan dukungan dari kekuatan oposisi yang menyepakati rencana tidak tertulis untuk transisi menuju demokrasi parlementer. 

Mereka ingin mengubah konsep tataran pemerintahan Mesir dengan memperlemah kekuasaan presiden dan memperkuat perdana menteri dan parlemen. Rencananya, aksi itu akan dilaksanakan sebelum pemilu presiden 2011. Sumber kedutaan menyebutkan, rencana tersebut sangat sensitif dan tidak boleh ditulis. 

Bagaimanapun, dari dokumen tersebut menunjukkan para aktivis telah didekati para diplomat AS.Para aktivis juga mendapatkan dukungan besar atas kampanye pro-demokrasi dari para pejabat di Washington. 

Ya, aksi demonstrasi Mesir kali ini dikendalikan Gerakan Pemuda 6 April, sebuah kelompok di Facebook yang menarik generasi muda dan kelompok terdidik untuk menentang Mubarak. Kelompok ini beranggotakan 70.000 anggota dan menggunakan situs jejaring sosial untuk mengendalikan demonstrasi. Meski akhirnya Mubarak memutus semua jaringan komunikasi di negaranya. Mubarak kini menghadapi tantangan paling berat dalam pemerintahannya selama 31 tahun berkuasa. 

Sebagai sekutu utama, posisi AS pun serbasulit.Tetapi,AS tetap memainkan standar ganda untuk menutupi skenario revolusi. Itu terbukti ketika Obama berkomentar pada pekan lalu mengenai Mesir. Presiden AS Barack Obama dalam reaksi atas demonstrasi di Mesir, menyatakan, “Kekerasan bukanlah jawaban dalam penyelesaian permasalahan di Mesir.” Dia juga menegaskan agar Mubarak menempuh langkah reformasi politik. Bisa dibilang, investasi AS untuk Mesir sangatlah banyak.

Salah satunya adalah militer. AS juga dalam kondisi khawatir karena memikirkan apakah militer Mesir akan berpihak ke Washington atau tidak. Sedikitnya USD1,3 miliar bantuan AS dikucurkan untuk militer Mesir pada 2010.Bantuan untuk pasukan huru-hara dan polisi Mesir berjumlah sekitar USD1 juta. “Hubungan dengan militer merupakan suatu hal yang sangat keramat. Militer merupakan elemen penting dalam hubungan dua negara,”ujar Jon Alterman,peneliti di Pusat Kajian Strategi dan Internasional. Washington telah mengancam militer Mesir agar tidak bertindak keras terhadap demonstran. 

Suleiman, Masa Depan Mesir? 

Revolusi Mesir kini tidak lagi fokus terhadap penggulingan Mubarak.Rakyat Mesir dan dunia internasional mengarahkan perhatiannya terhadap Omar Suleiman. Siapa dia? Suleiman telah dipilih menjadi Wakil Presiden Mesir.Dia pernah menyelamatkan Mubarak ketika diserang teroris di Etiopia. 

Penunjukan Suleiman sebagai wakil presiden pada Sabtu 29 Januari lalu merupakan sinyal bahwa dialah calon pemimpin masa depan Mesir yang direstui Mubarak. Kedekatan Suleiman dengan militer dan dikenal sebagai pemecah masalah adalah harapan bagi Mubarak yang ingin mempertahankan kekuasaan. Kedua orang tersebut merupakan sahabat lama dan sama-sama dekat dengan Washington. Para pejabat AS memandang Suleiman sebagai pemimpin transisi nantinya, setelah Mubarak. Dengan dukungan Ahmed Shafiq, 69, yang ditunjuk sebagai perdana menteri, ditambah dengan Hussein Tantawi yang tetap menjabat panglima militer, maka posisi Suleiman semakin kuat. 

“Presiden (Mubarak) memilih seorang pria yang dia percaya ketika dia (Mubarak) sedang digoyang,” ujar Mahmud Shokry, mantan duta besar untuk Suriah dan teman dekat Suleiman,kepada The NewYork Times.

“Tidak ada keraguan bahwa presiden tidak mengetahui apa yang akan terjadi nanti.” Suleiman, mantan jenderal, menjadi kandidat pemimpin Mesir yang telah diskenariokan kubu Mubarak dan militer. Jika Suleiman tetap maju,maka publik akan marah karena itu tidak dikehendaki oleh rakyat Mesir.Jika Suleiman jadi presiden, maka demokrasi otoriter dengan dukungan militer akan terus berlanjut. 

“Dia (Suleiman) merupakan orang yang keras dan kuat dengan orientasi bisnis. Dia juga merupakan negosiator yang ulung,”ujar Emad Shahin, mantan dosen di American University di Kairo. Menurut Shahin, setelah aksi demonstrasi besar-besaran ini jelas sekali militer akan mengambil alih.Apalagi, sejarah telah membuktikan bahwa rakyat Mesir memang lebih menghormati militer. Itu disebabkan militer yang menyelamatkan Mesir ketika berperang melawan Israel pada 1967 dan 1973.

Mencari Pemimpin Alternatif Mesir 

Jadi, apakah Suleiman adalah orang yang dipandang Barat mampu menggantikan Mubarak? Jawabannya memang sangat sulit.Barat tidak memfavoritkan Suleiman sebagai pengganti Mubarak yang telah 30 tahun berkuasa meski wakil presiden baru itu tampaknya akan didukung AS. Telunjuk Barat sebenarnya lebih terarah pada Mohamed ElBaradei yang dielu-elukan Barat. 

Dia dianggap cocok menjadi pemimpin transisi bagi Mesir.Pergaulan yang luas membuat ElBaradei dihargai banyak pihak. Apalagi, dia merupakan seorang sekuler. ElBaradei menyerukan agar Ikhwanul Muslimin seharusnya menjadi partai politik dan bekerja sama dalam satu payung bersama Koalisi Nasional untuk Perubahan.

sumber : international.okezone.com

Power to the people


Power to the people
Power to the people
Power to the people
Power to the people
Power to the people
Power to the people
Power to the people
Power to the people, right on 

Say you want a revolution
We better get on right away
Well you get on your feet
And out on the street 

Singing power to the people
Power to the people
Power to the people
Power to the people, right on 

A million workers working for nothing
You better give 'em what they really own
We got to put you down
When we come into town 

Singing power to the people
Power to the people
Power to the people
Power to the people, right on 

I gotta ask you comrades and brothers
How do you treat you own woman back home
She got to be herself
So she can free herself 

Singing power to the people
Power to the people
Power to the people
Power to the people, right on
Now, now, now, now 

Oh well, power to the people
Power to the people
Power to the people
Power to the people, right on 

Yeah, power to the people
Power to the people
Power to the people
Power to the people, right on 

Power to the people
Power to the people
Power to the people
Power to the people, right on

Revolusi Mesir: Di mana kedudukan Ikhwan Muslimin?

February 07, 2011

7 FEB — Kebangkitan rakyat Tunisia sehingga dapat menggulingkan diktator Zine El Abidin Ben Ali dalam waktu begitu singkat kini menjalar ke Mesir, dan berpotensi cerah meranapkan banyak lagi pemerintahan kuku besi di rantau Arab.

Siapa pun tidak dapat menduga, anak-anak muda yang membesar dalam ledakan dunia maklumat tanpa sempadan, yang sentiasa dikongkong dan dikurung oleh budaya takut, berjaya menghalau Ben Ali dan keluarga.

Di Timur Tengah, hampir semua kerajaan yang memerintah tidak dipilih rakyat melalui sistem demokrasi. Sama ada ia sebuah republik atau sistem monarki, memihak Barat atau memusuhinya, mengadakan hubungan dengan Israel atau tidak, namun rakyatnya sentiasa ditindas dan dinafikan hak.

Elit penguasa membolot dan menimbun kekayaan untuk diri, keluarga dan kroni. Negara kaya tetapi majoriti penduduknya merempat. Pengangguran, kemiskinan dan rasuah bermaharajalela. Manakala maruah umat tergadai dengan pergantungan kepada kuasa-kuasa luar.

Tumpuan kini tertumpu ke Mesir. Regim zalim Hosni Mubarak, yang menjadi sekutu rapat Amerika Syarikat dan zionis Israel hanya menunggu masa untuk runtuh. Diberitakan keluarga presiden yang memerintah selama 30 tahun itu sudahpun melarikan diri ke luar negara.

Hosni tidak berupaya lagi membendung amarah rakyat, yang terus melancarkan protes tanpa henti biarpun berdepan risiko tinggi. Medan Tahrir menjadi saksi pertumpahan darah tidak dapat dielakkan, apatah lagi rakyat berdepan dengan dalang keganasan yang dicetuskan Parti Nasionalis Demokratik pimpinan Hosni.

Keaiban detik-detik akhir kehidupan presiden sebelumnya, Anwar Sadat yang dibunuh di hadapan publik dan disiar secara langsung televisyen, mungkin berulang kepada Hosni. Anwar ditembak mati seorang anggota tentera, Leftenan Khalid Islambouli ketika beliau berdiri menerima tabik hormat daripada perbarisan ketenteraan pada 6 Oktober 1981. Ia berpunca daripada kemarahan rakyat terhadap perjanjian Mesir dengan Israel, dalam Perjanjian Kem David, selain penentangan terhadap amalan rasuah dan kenaikan harga barangan.

Apabila rasa gentar dan takut sudah hilang daripada sanubari rakyat tertindas, tiada apa lagi yang mampu menghalang tercetusnya revolusi dan pemberontakan. Regim yang diperkasakan oleh pasukan keselamatan, khususnya polis rahsia yang dulunya digeruni kini terpaksa melutut dengan suara keramat rakyat.

Pukulan belantan, perintah darurat, arahan berkurung, tembakan gas pemedih mata, peluru getah hatta ratusan kes pembunuhan oleh agen pemerintah; semuanya dianggap enteng apabila kepompong budaya takut pecah berkecai.

Malah balai polis diserbu penunjuk perasaan dan mereka bertindak nekad membakarnya. Satu simbol nyata bahawa ketakutan yang membungkus gerak kehidupan rakyat selama ini telah turut terbakar. Rasa hormat dan maruah diri yang dipijak-pijak sejak sekian lama mula bangkit mengisi roh generasi baru rakyat Mesir.

Mereka kini sedang berusaha mencipta sejarah, bukan hanya untuk membebaskan negara yang “terjajah” sekian lama, juga bagi membawa obor semangat buat negara-negara jiran dan ummah seluruhnya.

Sejarah pembebasan negara-negara Arab, termasuk Mesir dan Tunisia, daripada belenggu penjajahan, memang luar biasa. Pengaruh Mesir terhadap orang-orang Melayu juga tidak kurang hebatnya. Akhbar-akhbar Melayu, seperti al-Ikhwan, Saudara, al-Imam, Idaran Zaman dan Suara Melayu sejak awal abad 20 telah melaporkan pergolakan politik dan gerakan kebangsaan rakyat Mesir.

Nama-nama pejuang dan pemikir Islam seperti Jamaluddin Al-Afghani (1838-1897), Muhammad Abduh (1849-1905) dan Rashid Ridha (1865-1935) tidak asing lagi kepada orang Melayu, yang seterusnya menimbulkan polemik Kaum Muda di Tanah Melayu.

Menurut Prof Dr Mohammad Redzuan Othman dalam bukunya, Islam dan Masyarakat Melayu; Peranan dan Pengaruh Timur Tengah, gerakan Pan-Islamisme yang dipelopori Jamaluddin Al-Afghani telah mencetuskan kesedaran kebangsaan rakyat Mesir.

Ketika di Mesir, Afghani berjaya mempengaruhi generasi muda dan ramai pengikutnya muncul memainkan perana penting dalam perkembangan sejarah Mesir moden. Gagasan ideanya — yang menyeru umat Islam kembali kepada ajaran sebenarnya — lebih berpengaruh jika dibandingkan dengan pergerakan nasionalisme Arab atau Mesir.

Selain itu, dua institusi besar Mesir yang juga cukup dekat-akrab dengan masyarakat Islam di Malaysia ialah Universiti Al-Azhar dan gerakan Islam, Ikhwan Muslimin. Tuan Guru Nik Abdul Aziz Nik Mat merumuskan: “Itulah hebatnya Mesir. Bumi anbiya’ yang dipilih Allah SWT untuk menjadi tuan rumah kepada universiti tertua di dunia ini telah melahirkan generasi ulama terbilang yang bertebaran menyebarkan ilmu ke serata dunia.”

“Sayangnya,” tambah Ustaz Nik Aziz, “Mesir hari ini ditadbir oleh rejim diktator yang sedikitpun tidak mencerminkan kemuliaan Universiti al-Azhar. Lihatlah bagaimana Syed Qutb telah dibunuh dengan kejam hanya kerana menulis kitab Maalim fit Tariq dan tafsir Fil Zilal al-Quran.”

Isu Palestin juga begitu dekat dengan umat Islam sedunia dan rakyat negara ini. Di kala zionis Yahudi bertindak zalim sewenang-wenangnya, dibantu pula oleh Amerika Syarikat, maka peranan negara-negara jiran, sekurang-kurangnya untuk tidak sama-sama menekan amat diharapkan. Mesir pula pernah menunjukkan komitmen dan kekuatannya untuk berperang dengan Israel.

Malangnya Mesir mengkhianati amanah dan harapan ummah. Ia turut melakukan pengepungan ke atas wilayah Gaza, Palestin. Talian hayat rakyat Palestin dipotong. Bantuan dunia luar tersekat. Mesir memang terbukti menjadi sekutu rapat dan talibarut Israel memerangi kumpulan Islam di Gaza.

Benarlah rumusan Ustaz Nik Aziz: “Sesungguhnya tangan Hosni Mubarak ialah tangan berlumuran dengan darah rakyat Palestin. Kekuasaannya tegak di atas susunan tulang tulang para ulama yang dikorbankan demi untuk memenuhi tuntutan hawa nafsunya.”

Secara peribadi, saya lebih terasa intim dengan Ikhwan Muslimin (ditubuhkan pada 1927, di Isma’iliyyah, Mesir), yang dianggap guru buat semua gerakan Islam moden. Saya kira hampir semua aktivis dakwah di negara ini sedikit sebanyak, secara langsung atau tidak langsung, dipengaruhi Ikhwan.

Malah kebangkitan harakah Islamiyah di negara-negara lain, seperti Jamaat Islami di Pakistan, Masyumi di Indonesia, Parti Refah di Turki, Parti Islam Se-Malaysia (PAS) di Malaysia juga mendapat inspirasi daripada Ikhwan, yang kemudiannya diikuti Hamas di Palestin dan banyak lagi gerakan Islam di seluruh dunia.

Pengasasnya, Assyahid Hassan Al-Banna (14 Oktober 1906 - 12 Februari 1949) dibunuh regim Mesir melalui satu tipu helah jemputan perundingan dengan kerajaan. Imam yang agung itu terkena tujuh tembakan tetapi masih mampu berjalan memanggil ambulan. Bagaimanapun pihak tentera tidak membenarkan doktor merawatnya, sehinggalah Al-Bana sengaja dibiarkan mati dengan tumpahan darah yang banyak.

Tiada sesiapa dibenarkan menguruskan jenazahnya. Hanya ayahnya, Syeikh Ahmad Abdul Rahman, berusia lebih 90 tahun memandi dan mengafankan jenazah Al-Banna. Syeikh Ahmad bersama tiga anak perempuannya mengusung jenazah ke masjid dengan kawalan ketat tentera.

Pengikut dan anak murid Al-Banna kemudiannya diburu bagaikan pengganas. Al-Banna bukan sahaja meninggalkan puluhan karya ulung untuk umat, tetapi lebih penting menunjukkan teladan unggul mengatur organisasi secara tersusun bagi melaksanakan perjuangan Islam di medan.

Kisah kezaliman dan penderitaan bukan hanya ditanggung Al-Banna tetapi seluruh generasi Ikhwan seterusnya. Penyeksaan yang ditanggung mereka terlalu perit untuk diceritakan. Penuh dengan air mata, penjara, darah, tali gantung, pengharaman dan pembunuhan kejam.

Tokoh-tokoh Ikhwan lain yang harum namanya, dan terus disebut-sebut, selain meninggalkan khazanah pemikiran berharga, seperti Assyahid Syed Qutb, Assyahid Abd Qader Audah, Hassan Hudaibi, Umar Tilmisani, Mustafa Masyhur, Mustapha al-Siba’i, Said Hawwa, Syed Sabiq, Muhammad Al-Ghazali, Yusof Al-Qaradawi dan ramai lagi.

Memang ada pihak yang sangsi, apakah Ikhwan yang sering diperalatkan pemerintah akan “dipergunakan” sekali lagi apabila Mesir berdepan krisis besar? Apatah lagi Mesir merupakan negara paling strategik di Timur Tengah, malah bagi Napolean Bonaparte, ia negara terpenting di dunia. Regim Mesir sentiasa menekan dan menindas Ikhwan, sejak Raja Farouk, Jamal Abdul Nasser sehinggalah Anwar Sadat dan Mubarak. Walhal Nasser dan Sadat merupakan orang yang pernah rapat dengan Ikhwan.

Mohamad Fauzi Zakaria dalam, Aqidah Yang Menggoncang Dunia, yang merupakan kajian di peringkat sarjana terhadap pengaruh pemikiran Syed Qutb, menjelaskan Ikhwan terbabit secara aktif dalam Revolusi Julai 1952 menumbangkan tirani monarki, Raja Farouk. Malahan Syed Qutb ditawarkan beberapa kedudukan penting dalam kerajaan revolusi termasuk Menteri Pelajaran, memandangkan pengalamannya yang luas di bidang pendidikan. Namun beliau menolaknya.

Syed Qutb, dalam satu majlis yang dihadiri para pegawai tentera Mesir menegaskan: “Sesungguhnya revolusi telah berlaku ... keluarnya seorang raja tidak bermakna berakhirnya revovulsi. Bahkan matlamat terakhir revolusi ini ialah mengembalikan negeri ini kepada Islam ... Sesungguhnya diriku semasa pemerintahan beraja telah kusediakannya untuk dipenjarakan. Malah tidak aman diriku pada zaman ini pun untuk terus kusediakannya kepada penjara lebih daripada persediaanku sebelumnya.”

Dengan spontan, Jamal Abdul Nasser yang turut berada dalam majlis sama mencelah: “Saudaraku Syed, demi Allah, tidakkan sampai kebimbangan itu padamu melainkan langkahnya mayat kami. Kami berjanji padamu dengan nama Allah bahawa kamilah tebusan kepada dirimu sehingga maut!”

Realitinya, apa yang dibimbangi Syed Qutb itu terbukti benar. Atas konspirasi terancang, melalui fitnah terhadap gerakan itu, Ikhwan diharamkan pada 13 Januari 1954, pimpinan dan ribuan anggotanya ditangkap.

Kenyataan rasmi regim Nasser, dua hari selepas itu: “Pengumuman penting Majlis Pimpinan Revolusi tentang Ikhwan Muslimin, hubungan mereka dengan Inggeris dan mengadakan pertubuhan sulit di dalam pasukan polis dan tentera dalam usaha menggulingkan kerajaan dengan berselindung di sebalik pergerakan agama.” Syed Qutb akhirnya terkorban syahid di tali gantung pada pagi Isnin, 29 Ogos 1966, selepas dua kali dipenjarakan.

Saya yakin, suasana kini sudah banyak berubah. Generasi Ikhwan yang terlatih, berakhlak dan berdisiplin, serta kaya dengan pengalaman — dibantu arus globalisasi dan dasar langit terbuka yang mempercepatkan proses pendemokrasian dan boleh menyulitkan berulangnya konspirasi jahat terhadap Ikhwan — pasti bersedia menyumbang khidmat menyelamatkan Mesir secara lebih berkesan. Buat masa ini mereka lebih bersedia menonjolkan Mohamed El-Baradei, penerima Hadiah Nobel Keamanan 2005, ke hadapan. “Kemahuan kami adalah kehendak rakyat,” kata salah seorang pemimpin Ikhwan di Kaherah.

Insya-Allah, Ikhwan tidak dapat ditipu lagi, manakala pemimpinnya lebih berhati-hati dan bijaksana membaca realiti bagi mengatur rentak. Imej ekstrimis, militan dan teroris, walaupun masih cuba dipalit ke wajah Ikhwan, namun agak sukar mempengaruhi majoriti rakyat yang sudah bersatu hati menghambat Hosni.

Dalam masa sama, dipercayai regim Hosni cuba “bertarik tali” dan berlengah-lengah untuk meletakkan jawatan, bagi mempastikan pembaharuan Mesir tidak diterajui Ikhwan. Pemerintahan Amerika Syarikat yang menyokong transisi politik di Mesir turut meminta Hosni bertahan, bagi memastikan proses pembaharuan berjalan secara lancar dan aman.

Sekiranya pilihan raya adil dan bebas diadakan di Mesir, seperti pernah berlaku di Algeria dan Lubnan, juga seumpama di Turki, Ikhwan seperti gerakan Islam lainnya, akan mendapat sokongan ramai. Cuma, kepentingan Amerika dan Israel (terbukti Ikhwan bersedia bangun menentang Israel termasuk memikul senjata di medan perang) di Mesir jauh lebih besar berbanding Tunisia yang dibiarkan jatuh. Justeru, strategi dan pendekatan terbaik amat diperlukan oleh gerakan Islam masa kini, agar segala ruang sabotaj ditutup serapat mungkin.

harakahdaily.net

Ubah sekarang, selamatkan Malaysia!

Mohd Farid Hamlud
Feb 7, 11
1:18pm

Ya, saya seorang pencinta keamanan dan kebenaran. Bahkan saya mencintakan kebenaran lebih daripada diri saya sendiri. 

Saya sendiri cemburu kepada Mohamed Bouazizi, 26, kerana dia telah berjaya menjadi asbab kepada kebangkitan rakyat Tunisia, bahkan setin petrol yang dibelanjakan itu menjadikan dia asbab kepada kebangkitan jutaan rakyat Timur Tengah yang sudah tidak mampu menanggung marah ke atas pemerintahan zalim kerajaan masing-masing.

Mesir, terkenal dengan kerajaannya yang kuku besi, pengkhianat, dan menindas golongan yang ingin menyebarkan dan menegakkan Islam. Hosni Mubarak bersekongkol dengan Israel menutup sempadan Rafah yang sebelum ini menjadi "talian hayat" penduduk Palestin yang menjadi mangsa kezaliman Yahudi dan sekutu. 

Menangkap dan membunuh Ulama' sudah tidak perlu diceritakan lagi, di tangan merekalah gugurnya Asy-Syahid Imam Hassan Al-Banna, Asy-Syahid Sayyid Qutub dan ramai lagi pejuang Ikhwanul Muslimin yang sentiasa vokal, sehingga ke hari ini, menyatakan kebenaran dan menegakkan keadilan.

Tunisia, kerajaan yang zalim, penindas dan boros. Keluarga Ben Ali hidup dengan mewah membelanjakan harta rakyat. Sudahlah mereka hidup bersenang-lenang dalam kemewahan, tanggungjawab mentadbir dan menguruskan negara dipandang enteng dan langsung tidak mempedulikan kehendak dan perasaan rakyat.

Begitu juga dengan Negara Timur Tengah lainnya, begitu zalim dan menindas. Negara mereka kaya raya, namun ekonomi tidak stabil bahkan rakyat hidup merana dan melarat. Sudahlah dibiarkan hidup miskin, malah perhatian dan hak mereka diabaikan. 

Bukan sehari dua mereka hidup dalam keadaan tertekan dan tertindas begitu, bahkan puluhan tahun mereka dihimpit kemiskinan. Sesiapa sahaja yang bertindak menentang kerajaan akan dipenjarakan dan dikenakan hukuman yang berat. Mereka ditahan tanpa bicara, dan dihukum juga tanpa bicara.

Siapa Mohammad Bouazizi?

Tentu ramai yang ingin mengenali siapakah Mohammad Bouazizi yang begitu dicemburui pejuang keadilan dan kebenaran. 

Tunisia, seperti negara yang sedang bergejolak lainnya, merupakan negara yang rakyatnya dihimpit masalah kemiskinan. Peluang pekerjaan yang terhad memaksa rakyatnya untuk hidup berdikari berniaga demi mencari sesuap nasi. 

Bouazizi hidup susah sejak dari kecil, beliau menyara kehidupannya dan keluarga dengan menjual buah-buahan dan sayur-sayuran di jalanan.

Suatu hari, gerainya dirampas oleh pihak berkuasa gara-gara berniaga tanpa lesen. Beliau sendiri ditampar oleh seorang pegawai penguatkuasa wanita.F Hamdi bukan sahaja menampar, malah meludah, menghancurkan alat timbang milik Bouazizi di depan matanya sendiri sambil dibantu oleh dua rakannya yang lain membelasah dan mengutuk ayahnya.

Malang yang menimpa dirinya berterusan apabila rayuan dan suaranya tidak diendahkan oleh pihak Gabenor kawasan Sidi Bouzid.

Kecewa dan hilang arah tujuan kerana tidak lagi berdaya membantu keluarga, mesej beliau yang terakhir di Facebook:

"Saya pergi, ibu. Maafkan saya. Mencela dan menyalahkan takkan membantu. Saya tersesat dan itu dari di luar kawalan saya. Maafkan saya jika saya tidak melakukan seperti yang ibu minta saya dan ingkar kepada ibu. 

“Salahkan zaman di mana kita hidup, jangan salahkan saya.Saya sekarang pergi dan tidak akan datang kembali. Perhatikan saya tidak menangis dan tidak ada air mata jatuh dari mata saya.

“Tidak ada ruang lagi untuk mencela atau menyalahkan dalam zaman pengkhianatan di tanah Rakyat. Saya tidak merasa normal dan tidak dalam keadaan yang betul. Saya pergi, dan meminta yang memimpin perjalanan untuk melupakan."


17 Disember 2010, dengan setin minyak petrol beliau nekad membakar dirinya di hadapan bangunan pentadbiran Sidi Bouzid dan dikejarkan ke Hospital. Beliau bertahan sehingga 4 Januari dan menghembuskan nafasnya di Hospital di Sidi Bouzid. 

Rakaman kejadian Bouazizi membakarr dirinya dan kisah bagaimana nasib yang menimpa dirinya menimbulkan kesedaran kepada puluhan ribu rakyat Tunisia. 

Ibunya berkata, "Dia (Bouazizi) mati kerana mempertahankan maruahnya yang tercalar, bukan kerana desakan hidup," Memang, di Tunisia mereka yang sudah tidak berdaya dan tidak mampu menanggung dan menyara keluarga hanya layak mati

Kerajaan Ben Ali cuba mengawal keadaan dengan menurunkan harga barang selain berjanji tidak akan mempertahankan jawatan yang telah dipegangnya selama 23 tahun, namun kebangkitan rakyat sudah tidak dapat dielakkan.

Kemarahan rakyat ke atas kezaliman dan salah laku kerajaan, khususnya Ben Ali dan isterinya sudah tidak dapat dibendung. Berita kematian Bouazizi membuka mata puluhan ribu rakyat yang lain untuk bangkit menuntut pembelaan dan keadilan daripada kerajaan.

Begitulah yang terjadi di Tunisia dan kesannya merebak ke seluruh negara Timur Tengah yang rakyatnya berhadapan dengan krisis dan kepincangan urustadbir kerajaan yang korup, zalim dan menindas.

Saya pencinta ketenangan, kebenaran dan keamanan. Justeru saya juga tidak mahu perkara yang sama berlaku di Malaysia.

Kemarahan tidak dapat diredakan

Di Mesir, sejurus selepas berita kebangkitan rakyat ini tersebar luas melalui internet dan telefon, kerajaan bertindak menutup dan menyekat segala akses komunikasi ke negara itu, sebarang bentuk alat komunikasi baik telefon, radio, internet, dan sebagainya ditutup dan disekat oleh rakyat kerana bimbang rakyatnya bangkit. 

Namun, dalam keadaan maklumat yang terhad itu sejuta malah lebih daripada itu, rakyat Mesir berhimpun di Tahrir menyatakan bantahan dan desakan kepada Hosni Mobarak untuk meletakkan jawatan.

Pembubaran kerajaan Mesir dan pengumuman penstrukturan semula negara sedikitpun membantu, malah tetap dan tidak berganjak sedikitpun. Walaupun berhadapan dengan ancaman bunuh oleh kerajaan Mesir yang memang sudah sedia terkenal menyembelih dan membunuh rakyatnya sesuka hati.

Kemarahan dan kebangkita rakyat ini sudah tidak dapat dielakkan dan hanya satu yang mereka inginkan, "perubahaan yang total!"

Peluang Untuk "Mengajar Amerika, Yahudi dan Sekutu".

Kebangkitan ini bukan sahaja dilihat sebagai ancaman besar kepada kerajaan tempatan malah inilah peluang terbaik untuk masyarakat dunia menjatuhkan dan menghancurkan Amerika Syarikat yang selama ini mengawal tengkuk pemimpin-pemimpin negara-negara tersebut.

Lihat sahaja Mesir, dan negara Arab lainnya, begitu bergantung kepada Amerika Syarikat sehingga harga minyak, yang mereka sebagai pengeluar utama pun, dikawal oleh Amerika Syarikat. 

Mereka begitu takut kepada Amerika Syarikat sehingga menjalinkan hubungan ketenteraan kononnya untuk menghapuskan pengganas dan militan. Mesir sendiri menjalankan latihan ketenteraan bersama Amerika Syarikat di buminya sendiri.

Natijah Kegagalan Urus Tadbir Yang Baik oleh Kerajaan

Inilah (kebangkitan) yang akan berlaku di mana-mana apabila sesebuah kerajaan mahupun pemimpin sesebuah institusi sudah hilang kawalan dan kelayakan untuk memimpin dan menguruskan rakyat serta pimpinannya. 

Paling mudah, jika disebutkan di sini, berkaitan dengan urus tadbir yang baik (good governance), kerajaan atau mana-mana pemimpin perlu responsif kepada kehendak rakyat.

Responsif di sini, bermaksud kehendak dan pandangan rakyat didengari, seterusnya keputusan yang baik dilaksanakan dengan berkesan bagi mengawal dan membaik pulih keadaan. Bukan sahaja di dalam kepimpinan negara, hatta sekecil-kecil syarikat pun memerlukan kepada kaedah urus tadbir yang baik ini.

Misalnya syarikat sekecil sebuah keluarga yang dipimpin oleh suami. Tetap memerlukan kepada urustadbir yang baik. Iaitu responsif terhadap kehendak ahlinya, telus dalam membuat dan melaksanakan sesuatu keputusan, mendaulatkan undang-undang atau polisi keluarga yang bersifat sejagat dan sebagainya. 

Suami sebagai ketua bertanggungjawab memastikan undang-undang dan polisi keluarga ini dipatuhi dan undang-undang tertinggi mestilah undang-undang yang mampu mengawal dan menguruskan perkembangan dan kemajuan keluarga dengan baik.

Jika dilihat dari sudut kepimpinan negara, perkara yang sama juga perlu berlaku. Pemimpin kerajaan perlu menetapkan polisi-polisi tambahan dari semasa ke semasa bergantung kepada perubahan yang berlaku ke atas dunia lebih-lebih lagi keadaan semasa di dalam negara. 

Turun-naik harga minyak misalnya, memang akan memberikan kesan ke atas keadaan ekonomi dunia, apalagi kerajaan Malaysia yang mengamalkan sistem kapitalis.

Negara amat bergantung kepada dolar, sedangkan dolar sudah lama rosak dan hanya bergantung kepada talian hayat negara-negara Arab, itupun semakin nipis talinya dikikis.

Rakyat Berhak Didengari

Dalam Hak Asasi Manusia, menyatakan manusia itu berhak didengari dan diberikan perhatian. Berhak didengari sama sekali tidak bermaksud kehendak mereka perlu dipatuhi. 

Kita sememangnya memerlukan had dan batasan supaya tiada yang melampau dan bertindak sesuka hati. Tetapi hak untuk didengari dan diberikan perhatian yang sewajarnya ini juga perlu diuruskan dengan baik oleh pemimpin.

Memberikan penjelasan dan penerangan yang telus, mematuhi lunas undang-undang yang didokong dan disokong bersama, selain melaksanakan keputusan dengan berkesan dapat memelihara negara supaya terurus dan ditadbir dengan baik. 

Tiada yang sepatutnya selamat dari dikenakan tindakan undang-undang, bahkan undang-undang mestilah daulat, dibaca dan ditakrifkan oleh mereka yang benar-benar layak, tidak bias, dan tidak mempunyai apa-apa kepentingan. 

Apalagi di Malaysia, kita megamalkan doktrin pengasingan kuasa, antara tiga bidang kuasa yang utama iaitu, legislatif, eksekutif dan kehakiman.

Saya berharap kerajaan Malaysia faham mengenai konsep asas ini, kerana inilah yang setakat ini mampu mengekang perasaan kecewa dan tertekan yang dihadapi oleh rakyat. 

Sebilangan besar rakyat Malaysia, masih memberikan kepercayaan kepada pihak penguasa walaupun ada yang ditahan tanpa bicara. Masih memberikan kepercayaan kepada pihak mahkamah walaupun terbukti Mahkamah bersikap "double standard" dalam membicarakan kes-kes tertentu sebelum ini. 

Masih memberikan ruang dan kepercayaan kepada sistem dan amalan demokrasi di Malaysia, sekalipun ruang untuk bersuara ditutup sepenuhnya oleh kerajaan apabila media arus perdana dikawal sepenuhnya oleh mereka.

Harapan masih ada!

Masih, sehingga saat ini, walaupun belum pasti apa yang akan berlaku esok, saya memberikan peluang dan ruang kepada kerajaan Malaysia untuk melaksanakan perubahan dengan segera. 

Mereka bukan sahaja akan digulingkan, bahkan akan dikerjakan dengan teruk oleh rakyat sedar yang semakin membuak-buak rasa marah akibat tekanan yang bertalu-talu yang dikenakan oleh kerajaan.

Semoga harapan terhadap pembelaan, keamanan, dan keadilan ini dapat kita saksikan dengan jalan yang baik. Kita selesaikan dengan cara aman, supaya kita menjaga keberkatan yang dilimpahkan oleh Tuhan ke bumi Malaysia yang bertuah ini.

Ubah Sekarang, Selamatkan Malaysia!


AirAsia boss gets award from British queen


February 07, 2011

KUALA LUMPUR, Feb 7 — Iconic entrepreneur Datuk Seri Tony Fernandes has been awarded the Commander of the Order of the British Empire (CBE) honour by Queen Elizabeth II of Britain.
Fernandes is also the Team Lotus team principal and AirAsia Group chief executive officer.
The award was conferred on him “for services to promote commercial and educational links” between the United Kingdom and Malaysia.
“It is a recognition of the hard work, determination and effort on the part of all my partners, colleagues and staff in AirAsia, Tune Group and Team Lotus,” Fernandes (picture) said in a statement yesterday.
The CBE is the second major award to be conferred on him in Europe after the Officer of the Legion d’honneur in 2010, the highest award for a non-French national for his outstanding contributions to the aviation industry.
Fernandes was also recently named “Asia Businessman of the Year 2010” by international magazine Forbes. — Bernama.

* nazmi salleh apa ada??? hampehhh

Ribuan sertai himpunan kebangkitan rakyat Mesir

Rusly Yasmin   
KUALA LUMPUR, 4 Feb: Lebih 5000 rakyat hari ini berhimpun di hadapan Masjid As-Syakirin KLCC bagi menyertai perarakan ke Kedutaan Amerika Syarikat bagi menyatakan bantahan terhadap campurtangan negara itu terhadap Mesir.

Himpunan tersebut yang telah memulakan perarakan mereka diketuai Exco Dewan Pemuda PAS Pusat, Ridhuan Mohd Nor.

Biarpun pihak polis menghalang laluan menuju ke bangunan kedutaan tersebut, peserta himpunan bagaimanapun berjaya melepasinya.

Turut serta dalam perarakan tersebut, pemimpin PAS dan Pakatan Rakyat lain termasuk, Salahudin Ayub, Mohamad Sabu, Dr. Syed Azman Syed Ahmad Nawawi, Suhaizan Kaiat dan shamsul Iskandar Mat Akin.

Ucapan pembakar semangat sebentar tadi turut disampaikan Mohamad Sabu yang mengecam Presiden Mesir Hosni Mubarak.

Himpunan yang menggabungkan parti politik dan Badan Bukan Kerajaan (NGO) hari ini dinamakan Himpunan Bersama Kebangkitan Rakyat Mesir.

Mereka akan membuat tiga desakan terhadap Amerika Syarikat iaitu menggesa ejen negara itu berundur dari Mesir, tidak campur tangan dalam urusan rakyat Mesir memilih pemimpin mereka serta mendesak seluruh dunia memberi tekanan kepada Presiden Mesir, Husni Mubarak agar meletakkan jawatan.

Kesemua mereka berarak selepas selesai solat Jumaat sebentar tadi di Masjid As-Syakirin KLCC.

Sekurang-kurangnya 50 NGO turut sama dalam himpunan tersebut.

Bilangan peserta kini makin bertambah apabila mereka yang menunggu di tepi jalan kini menyertai perarakan.

http://www.harakahdaily.net/

Yemen pula gelora, 20,000 sertai ‘hari berang’ di ibu negara


February 03, 2011

Presiden Yemen Ali Abdullah Saleh berucap di Parlimen semalam menawarkan untuk berundur pada 2013 tetapi terus dibantah oleh pembangkang. – Foto Reuters
SANAA, 3 Feb — Lebih 20,000 rakyat Yemen membanjiri jalan-jalan utama di ibu negara Sanaa hari ini – menamakan himpunan sebagai “hari berang” sambil menuntut perubahan segera dalam kerajaan dan menganggap tawaran Presiden Ali Abdullah Saleh semalam untuk berundur pada 2013 tidak cukup.
Protes di kawasan-kawasan lain di Yemen juga dijangkakan selepas ini – mirip perkembangan di negara utara Afrika, Mesir.
Ali Abdullah juga seperti Presiden Mesir Hosni Mubarak memerintah negara itu lebih tiga dekad.
Hosni berhadapan dengan protes aman, berlarutan sejak 10 hari lalu tetapi bertukar menjadi ganas semalam dan mengorbankan lima orang.
Penyokong-penyokong Ali Abdullah memandu di sekitar ibu negara sambil menggunakan pembesar suara menggesa kumpulan prokerajaan agar turun untuk berhadapan dengan puak berdemonstrasi – suasana yang disaksikan di Mesir sejak semalam.
Bagaimanapun sejak awal pagi tadi, penunjuk perasaan antikerajaan Yemen sudah pun berhimpun dalam jumlah yang besar sejak protes tercetus di negara Semenanjung Arab itu dua minggu lalu – tindakan yang turut didorong oleh protes politik Tunisia.
“Rakyat mahukan perubahan rejim,” laung penunjuk perasaan yang berhimpun di luar Universiti Sanaa di sini.
“Tiada rasuah, tidak kepada pemerintahan diktator,” kata penunjuk-penunjuk perasaan dipetik laporan msnbc hari ini.
Melihat pada pemberontakan yang semakin membara di dunia Arab, Ali Abdullah semalam berkata, beliau akan berundur apabila mandat kepimpinannya berakhir dalam dua tahun lagi.
Beliau juga berjanji anaknya tidak akan mengambil alih jawatan daripada beliau kelak.
“Tiada lanjutan kuasa, tidak diwarisi, tidak akan mengubah kedudukan jam,” kata beliau.
Jurucakap pembangkang Mohammed al-Sabri bagaimanapun telah menolak untuk berunding dengan Ali Abdullah sambil melahirkan kesangsian mengenai tawaran presiden itu.
Mohammed berkata Ali Abdullah pernah membuat janji yang sama pada 2006 tetapi gagal untuk memenuhinya dan bertanding semula.
Ali Abdullah memerintah Yemen sejak 32 tahun lalu.
Ia dilihat sebagai protes terbesar di Yemen, satu lagi negara rakan Amerika Syarikat dalam memerangi rangkaian Al-Qaeda.
Wael Mansour, jurucakap penganjur demonstrasi berkata hari ini, rakyat Yemen tidak berpuas hati dengan pengakuan dibuat oleh presiden mereka semalam.
“Hari ini akan ada tekanan yang lebih besar, segar ke atas Presiden Ali Abdullah, yang perlu adakan lebih banyak kompromi dengan pembangkang,” katanya.
Bagaimanapun beliau tidak menjelaskan kemungkinan kompromi yang dimaksudkan.
Yemen merupakan negara paling miskin di dunia Arab dan menjadi syurga rangkaian Al-Qaeda.
Hampir separuh penduduk Yemen tinggal di bawah garis kemiskinan dengan pendapatan RM6 (AS$2) sehari.